Monday, February 8, 2021
Written by :
Rosa Fitriani R, S. Pd
SMP YPPU SIGLI
CGP Kabupaten Pidie, Aceh.
PEMBALAJARAN BERDIFERENSIASI
Menurut Tomlinson (2000), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran dikelas untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap murid.
Namun
demikian, pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus
mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula
berarti guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat
bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti
guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan
yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak.
Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan
pembelajaran sekaligus, dimana guru harus berlari kesana kemari untuk membantu
si A, si B, atau si C dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah
malaikat bersayap atau Superman yang bisa kesana kemari untuk berada ditempat
yang berbeda-beda dalam satu waktu untuk memecahkan semua permasalahan.
Pembelajaran
berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada
kebutuhan murid. Keputusan-keputusan tersebut adalah terkait dengan:
- 1. Lingkungan
belajar yang “mengundang” murid untuk belajar.
- 2.
Tujuan
pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.
- 3.
Penilaian
berkelanjutan.
- 4.
Merespon
kebutuhan belajar murid.
- 5.
Manajemen
kelas yang efektif.
Didalam
artikel ini, penulis memuat beberapa uraian jawaban dari pertanyaan pada Modul 2
Guru Penggerak 2020, tepatnya bagian 2.1.a.6. Refleksi Terbimbing. Adapun
pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud adalah:
- Bagaimana
saya dapat melakukan praktek pembelajaran berdiferensiasi secara lebih
efektif?
Pada penjelasan sebelumnya telah
disebutkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah
usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran dikelas untuk memenuhi kebutuhan
belajar setiap murid.
Lebih lanjut lagi, pembelajaran
berdiferensiasi adalah proses atau filosofi untuk pengajaran
efektif dengan memberikan beragam cara untuk memahami informasi baru untuk
semua siswa dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara
untuk: mendapatkan konten; mengolah, membangun, atau menalar gagasan; dan
mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran penilaian sehingga semua siswa di
dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa
belajar dengan efektif. Proses mendiferensiasikan pelajaran dilakukan untuk
menjawab kebutuhan, gaya, atau minat belajar dari masing-masing siswa.
Tomlinson (2001), mengatakan bahwa kita dapat mengkatagorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.
Ketiga aspek tersebut adalah:
- Kesiapan
belajar (readiness) murid
- Minat
murid
- Profil belajar murid
Berhubungan dengan pertanyaan diatas, yang saya lakukan dalam praktek pembelajaran berdiferensiasi yang efektif yaitu :
Pertama, saya melakukan pemetaan berdasarkan kesiapan belajar (readiness). Kesiapan belajar tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Pemetaan
Kebutuhan Belajar Berdasarkan Kesiapan Belajar (Readiness)
Tujuan
Pembelajaran : murid dapat mengidentifikasi dan menyebutkan benda-benda
disekitarnya dalam bahasa Inggris
Tabel. Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Kesiapan
Belajar (Readiness)
|
Kesiapan
Belajar (Readiness) |
Murid telah mampu mengidentifikasi dan mengenali
benda-benda di sekitarnya dalam bahasa Inggris. Murid memiliki kosakata yang
cukup dalam bahasa Inggris untuk menyebutkan nama-nama benda yang ada
disekitarnya. |
Murid telah mampu mengidentifikasi dan mengenali
benda-benda disekitarnya dalam bahasa Inggris. Murid masih kurang memiliki
kosakata dalam bahasa Inggris dan
belum lancar dalam menyebutkan nama-nama benda yang ada disekitarnya. |
Murid belum mampu mengidentifikasi benda-benda
disekitarnya dalam bahasa Inggris. |
|
Nama Murid |
Alya Putroe Sultan Adzkia Khanza Billy |
Layna Remija Farrel Habibi Zalfa Rayyan |
Ahmad Adam Yuga Thariq Fatih Naurah |
|
Proses |
Murid pada tahap ini ditantang untuk menjadi
Role-Model di kelas. Mereka tampil menyebutkan benda-benda yang ada
disekitarnya dalam bahasa Inggris di depan kelas. |
Murid diminta untuk tampil menyebutkan benda-benda
disekitarnya dalam bahasa Inggris, beberapa kosakata yang belum diketahui
dapat ditanyakan pada temannya yang sudah menjadi Role-Model. Guru
memperbaiki kesalahan-kesalahan yang disebutkan, seperti pelafalan dan makna
yang keliru. |
Guru menyebutkan nama-nama benda dan siswa diminta
untuk mengulang kosakata-kosakata dalam bahasa Inggris. |
|
Guru
mendiferensiasi pembelajaran dengan mempertimbangkan kesiapan belajar murid. |
|||
Dari beberapa minat murid tersebut guru menginstruksikan untuk mengerjakan materi yang sama berubungan dengan pelajaran bahasa Inggris, yaitu membuat sebuah teks deskriptif. Dikarenakan murid memiliki minat yang berbeda, maka mereka dikelompokkan sesuai minat tersebut. Bagi murid yang menyenangi olah raga, mereka akan membuat teks deskriptif mengenai cabang olah raga yang mereka senangi. Bagi murid yang menyukai seni, mereka akan menulis mengenai cabang seni yang mereka ampu dan bisa mendesripsikan kedalam sebuah teks. Begitu juga dengan murid yang menyenangi bidang yang lain.
Ketiga, saya melihat dari profil belajar muid. Profil belajar murid akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang.
Berikut
ini adalah beberapa yang harus diperhatikan:
· Lingkungan :
suhu, tingkat aktivitas, tingkat kebisingan, jumlah cahaya.
· Pengaruh
Budaya : santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal -
impersonal.
· Visual :
belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta, grafik
organisator).
· Auditori :
belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras, mendengarkan musik).
· Kinestetik :
belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands
on, dsb).
2. Pendekatan manakah yang seharusnya saya
ubahsuaikan?
Dalam pengajaran
berdiferensisi ini, guru memang harus terlibat aktif dalam merencanakan sebuah
pembelajaran. Tapi, hal tersebut tetap mengedepankan pembelajaran yang berpihak
pada murid. Guru dapat menggunakan
beragam cara, kegiatan atau proses agar siswa dapat mengerti, memiliki
informasi, ide, mengeksplor dan mendemontrasikan apa yang telah mereka
pelajari.
Sebagai guru, tentu saya harus memahami bahwa murid akan mengeksplor
dirinya dengan lebih jika pembelajaran dan tugas yang saya berikan sesuai dengan minat yang
mereka miliki sebelumnya. Dalam pembelajaran berdiferensiasi hal tersebut dikatagorikan
dalam kesiapan belajar (readiness).
Jika tugas-tugas dan pembelajaran yang diberikan dapat memotivasi belajar murid
dengan lebih baik artinya hal tersebut sudah sesuai dengan minatnya
masing-masing.
Lalu, karena tugas tersebut memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja
dengan cara yang mereka sukai, maka hal ini disebut profil belajar.
Dengan cara mengkatagorikan murid berdasarkan ketiga aspek kebutuhan
belajar tersebut, maka kita dapat mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya
hasil dari pembelajaran murid diperlukan pembelajaran yang dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan belajar murid.
3.Bagaimana saya dapat bersikap positif walaupun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi?
Seiring perkembangan zaman, guru tidaklah terus berdiri ditempat, melainkan kita harus menyesuaikan diri dengan hal-hal baru terutama dalam bidang pembelajaran. Setiap harinya, tanpa disadari, guru dihadapkan oleh keberagaman yang banyak sekali bentuknya. Mereka secara terus menerus menghadapi tantangan yang beragam dan kerap kali harus melakukan dan memutuskan banyak hal dalam satu waktu. Keterampilan ini banyak yang tidak disadari oleh para guru, karena begitu naturalnya hal ini terjadi di kelas dan betapa terbiasanya guru menghadapi tantangan ini. Bagaimanakah karakteristik setiap anak di kelas? apa kekuatan mereka? Bagaimana gaya belajar mereka? Apa minat mereka? Siapakah yang memiliki keterampilan menghitung paling baik di kelas? Siapakah yang sebaliknya? Siapakah yang paling menyukai kegiatan kelompok? Siapakah yang justru selalu menghindar saat bekerja kelompok? Siapakah yang level membacanya paling tinggi? Siapakah murid yang masih perlu dibantu untuk meningkatkan keterampilan memahami bacaan mereka? Siapakah yang paling senang menulis? Siapakah yang lebih senang berbicara.
Berbagai usaha saya lakukan yang tentu saja tujuannya adalah untuk memastikan setiap murid di kelas sukses dalam proses pembelajarannya. Terkadang kita perlu mengikuti keinginan mereka dari pada mengharapkan mereka semua mengkuti keinginan kita. Dalam merencanakan pembelajaran berdifensiasi, guru harus memahami secara mendalam kebutuhan belajar siswanya yang beragam, baik dalam hal kesiapan belajar, minat, maupun gaya atau profil belajarnya agar mengahasilkan kemerdekaan dalam belajar dan tentunya murid merasakan kebahagiaan dalam pembelajaran yang sepenuhnya.

Kereenn bu Rosa, saya doakan semoga menjadi penulis yg sukses🤲
BalasHapusSukses..jadi penulis yg profesional..
BalasHapus